Beranda Bisnis Membangun Tren ala Malcolm Gladwell

Membangun Tren ala Malcolm Gladwell

238
0
BERBAGI

Malcolm Gladwell, seorang tokoh penulis bisnis di Amerika Serikat, berusaha mengidentifikasi faktor-faktor yang membuat suatu hal menjadi tren atau viral di kalangan masyarakat. 

Gladwell mengupas bagaimana tren-tren yang ‘mengubah dunia’ sesungguhnya berawal dari hal-hal yang kecil dan seringkali dianggap sepele atau tidak penting oleh banyak orang. Sesuatu yang menjadi tren atau viral di masyarakat diumpamakan sebagai sebuah wabah epidemis. Perumpamaan tersebut ia ambil karena ‘wabah’ kita ketahui sangat mudah menyebar di masyarakat. Wabah tersebut, pada suatu waktu, akan mencapai titik puncaknya dan menyebar hebat tak terelakkan di masyarakat. Masa-masa tersebutlah yang kemudian disebut Gladwell sebagai The Tipping Point. 

Dalam menggambarkan terjadinya fenomena The Tipping Point, Gladwell mengambil studi kasus atau mengilustrasikan sebuah kejadian yang terjadi di sekitarnya. Utamanya, kasus atau kejadian yang terjadi di Amerika Serikat sekitar tahun 90-an, misalnya kasus pemberontakan masyarakat AS terhadap penjajah Inggris akibat sebuah berita yang dibawa oleh seseorang yang berpengaruh disana yang kemudian menimbulkan Tipping Point. Ada pula, cerita mengenai acara anak Sesame Street yang menjadi tren dan sangat digemari oleh anak-anak di masanya. Atau, bagaimana sebuah agensi iklan mebuat kampanye transformasional yang membuat brand sepatu biasa menjadi brand dunia dan digandrungi anak muda di sana.

Tiga Pendekatan Analisis Tren

Kasus-kasus tersebut dianalisis dengan tiga pendekatan, yaitu pendekatan The Law of the Few, pendekatan The Stickiness Factor dan terakhir, pendekatan The Power of Context. Masing-masing pendekatan memiliki fokus analisi yang berbeda. Hal itu menunjukkan bahwa fenomena yang menjadi tren atau viral di masyarakat adalah hal yang multidimensi, tidak dapat dijelaskan dengan satu tolok ukur. Begitu pula ketika kita ingin membangun tren di masyarakat, kita butuh untuk melihat banyak aspek, tidak hanya fokus pada satu faktor saja.

Berikut ini adalah penjelasan pada masing-masing pendekatan secara lebih mendetil: 

The Law of The Few

The Law of the Few sendiri memiliki ide dasar bahwa sesuatu menjadi tren bergantung pada siapa yang meneruskan atau membawa sebuah ‘berita’ tersebut. Gladwell membagi para pembawa berita tersebut ke dalam tiga kategori, Connector, Mavens dan Salesmen. Connector adalah orang yang memiliki jaringan dan koneksi yang luas. Ia mengenal banyak orang, banyak pihak. Sedangkan Mavens adalah orang yang memiliki banyak informasi dan selalu ingin membagi informasi tersebut. Sehingga, Mavens selalu dijadikan referensi bagi banyak orang sebelum mengambil keputusan. 

Baca Juga: 7 Cara Menjadi Youtuber Pemula yang Baik

Terakhir, salesmen merupakan seseorang yang memiliki pengaruh (influence) terhadap orang di sekitarnya. Mengingat orang-orang yang memiliki karakter Connectors, Mavens dan Salesmen ini tidak banyak jumlahnya, maka disebutlah The Law of The Few.

The Stickiness Factor

Selanjutnya, The Stickiness Factor bercerita tentang faktor tertentu yang membuat suatu hal begitu melekat di benak setiap orang. Hingga, pada titik tertentu, sebuah hal yang terlanjur melekat akan beredar ke masyarakat luas. Ada banyak contoh faktor yang bisa membuat sesuatu melekat di masyarakat. Gladwell mengambil contoh episode serial anak-anak luar negeri Blues Clues yang diputar berulang-ulang selama beberapa hari. Pemutaran episode yang sama selama beberapa hari tersebut tidak membuat anak-anak bosan. Justru, sebaliknya, pemutaran itu membuat cerita di satu episode sangat melekat di benak anak-anak. Sehingga, pada satu titik, serial Blues Clues sempat menjadi salah satu serial anak yang paling diminati di masanya.

The Power of Context

Terakhir, The Power of Context menekankan pentingnya sebuah konteks dimana sebuah fenomena terjadi. Bahwa, dalam konteks kasus yang diangkat oleh Gladwell, kadang intervensi dalam menyelesaikan masalah tidak perlu terlalu rumit diberikan kepada pelaku. Tetapi, kadang intervensinya sangat sederhana, yaitu dengan memperbaiki kondisi lingkungan.

Terdapat satu masa diAmerika Serikat dimana vandalisme banyak terjadi di kereta-kereta yang ada disana. Para pelakunya anak muda yang berasal dari latar belakang sosiologis dan psikologis tertentu. Namun, mereka berupaya untuk mengurangi angka vandalisme tersebut tidak dengan intervensi langsung kepada para pelaku. Tetapi mengecat ulang kereta yang divandalisme.

Begitu seterusmya, setiap ada vandalisme baru ditemukan, mereka akan mengecat ulang. Setelah dilakukan penelitian, cara ini ternyata jauh lebih efektif dibandingkan dengan memberikan intervensi kepada pelaku. Karena mereka menemukan bahwa dorongan untuk melakukan vandalisme sebenarnya datang karena lingkungan yang penuh vandalisme seolah mendukung tindakan tersebut. Terlepas dari apapun latar belakang sosiologis dan psikologis pelaku. 

Intinya, debut Malcolm Gladwell dalam menganalisis hal-hal yang menjadi faktor tren ini cukup menarik untuk ditelaah lebih lanjut, terutama bagi kalian yang berkecimpung di dunia penjualan dan pemasaran (sales and marketing). Analisis-analisis yang dilakukan oleh Gladwell menunjukkan pada kita bahwa tidak ada yang kebetulan pada sebuah tren yang berkembang di masyarakat.

Dengan kata lain, selalu ada alasan dibalik viralnya sesuatu. Oleh karena itu, jika Anda ingin membuat produk, gagasan atau ide yang berkembang pesat di masyarakat, atau meminjam istilah Gladwell, mencapai Tipping Point, pandai-pandailah mengidentifikasi faktor pendorongnya seperti yang sudah dijelaskan oleh Gladwell. Tentunya dengan berbagai pendekatan dan tidak terpaku hanya pada satu dimensi saja. 

Komentar dengan facebook