Beranda Gaya Hidup 5 Hal Penting dalam Pernikahan Menurut Islam

5 Hal Penting dalam Pernikahan Menurut Islam

418
0
BERBAGI

Dewasa ini, semua orang berlomba untuk membuat pesta pernikahan yang mewah dan megah. Semakin modern suatu acara pernikahan akan dinilai lebih baik bagi para tamu undangan. Dalam penyelenggaraan pesta pernikahan sebenarnya tidak masalah jika menggunakan adat atau konsep modern tertentu. Sang pengantin, keluarga, dan panitia penyelenggara pun pastinya telah sangat memperhitungkan segala macam yang berkaitan dengan pesta tersebut.

Hakikatnya, pesta pernikahan hanyalah sebagai pengumuman kabar bahagia dari sang mempelai kepada khalayak. Dalam Islam pun kita telah diajarkan untuk merahasiakan khitbah dan mengabarkan akad. Tujuannya tentu saja agar saat masih dalam masa khitbah, keduanya dapat dengan seksama mempersiapkan walimah nantinya tanpa gangguan orang lain. Begitu pula ketia akad, maka harus dikabarkan atau diumumkan agar tidak terjadinya fitnah.

Makin berkembangnya zaman, kita makin dihadapkan pada beragam konsep pernikahan yang mengagumkan. Tanpa disadari, konsep-konsep tersebut sudah melenceng dari jalurnya untuk “mengabarkan” melainkan untuk “memeriahkan”. Kesalahan perspektif ini membuat kaum milenial makin menjadi untuk membuat pesta pernikahan impian tanpa melihat hukum Islam lagi. Pernikahan yang merupakan “awal” dari sebuah kehidupan alih-alih menjadi “akhir” dari kehidupan seseorang.

Na’udzubillahi mindzalik..

Nah, sobat Abisnis.com, sebagai muslim yang belajar untuk taat, ada baiknya kita mengikuti apapun kewajiban dan sunnah yang ada dalam Islam. Tentu saja dalam hal pernikahan atau walimah. Bagi tiap orang di dunia ini, pernikahan adalah suatu hal yang sangat penting dan krusial yang diharapkan menjadi pertama dan terakhir kali mengalaminya.

Lalu, bagaimanakah walimah dalam pandangan Islam yang harus kita ikuti?

Penuhi syaratnya

Syarat yang dimaksudkan bukanlah persyaratan duniawi seperti adanya rumah, pekerjaan, dll. Syarat menikah dalam Islam sungguh bukanlah hal yang dimaksudkan untuk memberatkan kedua belah pihak yang ingin mengikat janji bersama. Pernikahan dalam ajaran Islam memiliki 4 syarat yaitu; kejelasan (ta’yin), kerelaan, adanya wali, dan adanya saksi.

Ta’yin atau kejelasan yang dimaksud adalah kejelasan dalam pengucapan akad. Ketika seorang wali akan menikahkan seorang perempuan yang diwalikannya kepada seorang laki-laki, maka wali tersebut wajib untuk memperjelas siapakah si perempuan yang akan dinikahkannya. Hal ini sangat penting karena akan berbahaya jika si wali memiliki anak perempuan lebih dari satu. Wali akan menunjuk atau menyebutkan langsung nama yang diwalikannya seperti, “Saya nikahkan anak saya bernama … dengan …”, sehingga dalam pernikahan tersebut tidak adanya hal yang rancu atau meragukan.

Yang kedua adalah kerelaan. Hal ini sangat penting, karena Islam sangat tidak menganjurkan pernikahan tanpa adanya kerelaan dari kedua mempelai. Secara logika, pernikahan adalah suatu bentuk penyatuan dua insan ke dalam satu kehidupan. Tentunya kita tidak ingin jika hidup bersama dengan ketidakrelaan, bukan?

Hal ketiga adalah adanya wali. Dalam Islam, pernikahan tidak akan sah jika tidak adanya wali. Hal itu ditujukan agar tidak ada laki-laki dan perempuan yang saling menikah sendiri tanpa dibimbing oleh orang lain yang lebih berhak dan berpengalaman. Selain itu, pernikahan juga harus dihadiri oleh saksi. Saksi yang hadir pada masa kini biasanya diundang dalam sebuah pesta besar. Namun, sebenarnya tujuan hakiki dari saksi yang datang adalah untuk mengukuhkan pandangan mengenai bersatunya kedua mempelai dalam ikatan keluarga. Sebagaimana namanya, saksi berfungsi sebagai saksi nikah supaya kedua pengantin tidak terlibat fitnah.

Lengkapi rukunnya

Rukun menikah dalam Islam ada tiga hal, yaitu; adanya dua calon pengantin yang bebas, ijab yang diucapkan wali, dan qobul yang diucapkan mempelai pria. Maksud dari dua calon pengantin yang bebas adalah keduanya tidak terhalang oleh suatu apapun. Kedua mempelai harus rela lahir dan batin untuk menikah dan menerima satu sama lain. Begitupun dengan keadaan masing-masing, tidak menikahi mahramnya sendiri, atau tidak dalam masa iddah bagi perempuan. Sedangkan ijab harus diucapkan dengan jelas oleh wali atau orang yang ditunjuk wali kepada calon mempelai laki-laki. Dan qobul harus diucapkan dengan jelas oleh sang mempelai laki-laki.

Perhatikan jangka waktunya

Jangka waktu dalam masa khitbah hingga walimah sebisa mungkin tidak terlalu lama. Hal ini untuk menghindari fitnah yang bisa kapan saja datang. Persiapan yang tidak terlalu memakan waktu, tenaga, dan harta pun sangat direkomendasikan. Hal itu karena pernikahan sejatinya untuk beribadah bukan untuk foya-foya sesaat.

Ikuti urutannya

Urutan dalam pernikahan syar’i juga penting diperhatikan. Hal yang baik dalam Islam ialah ketika kedua mempelai menikah karena agama. Jika hal tersebut terpenuhi, maka bukan tidak mungkin keduanya hanya mengetahui sosok satu sama lain tanpa mengenal lebih jauh. Masa pengenalan dalam Islam pun tidak boleh dilakukan berdua tanpa adanya orang lain. Si laki-laki berhak mengetahui bagaimana perilaku dan tabiat perempuan tanpa diketahui si perempuan, namun tetap dengan tidak berduaan.

Setelah saling mengenal, jika keduanya merasa ada ketertarikan maka akan menjad fitnah jika tidak segera diresmikan. Sebelum walimah, si laki-laki haruslah menghadap kepada orang tua atau wali dari si perempuan untuk meminta izin meminang si perempuan. Biasanya dalam hal ini akan diwakilkan pula dengan keluarga si pihak laki-laki. Setelahnya akan ada walimah, dimana akan adanya ijab dan qobul yang akan menyatukan kedua belah pihak.

Perhatikan walimatul ‘urs

Saat pernikahan, pesta dan segala hingar-bingar sebisa mungkin ditekan. Kita tentunya merasa beruntung dapat menikah tanpa paksaan bahkan dengan dukungan dari orang-orang tersayang. Namun pernahkah kita saat menikah memikirkan saudara muslim kita di tempat bencana atau bahkan di kawasan perang? Segala macam yang berlebihan tidak disukai oleh Allah SWT. maka dari itu, jadikanlah walimatul ‘urs sebagai tempat pelaminan kedua mempelai dengan sederhana dan penuh kekeluargaan. Pakaian yang tertutup, pemisahan lokasi antara ukhti dan akhi, makanan yang tidak berlebihan, dan musik yang tidak terlalu kencang sungguh bisa menguatkan hawa Islami dalam pernikahan.

Komentar dengan facebook