Beranda Ekonomi Perspektif Sumber Daya Manusia Abraham Maslow & Douglas McGregor

Perspektif Sumber Daya Manusia Abraham Maslow & Douglas McGregor

332
0
BERBAGI

Perspektif Sumber Daya Manusia

Gerakan sumber daya manusia pada awalnya merupakan penerapan pola pikir di bidang peternakan dalam manajemen : sapi yang kenyang akan menghasilkan lebih banyak susu dan pekerja yang puas akan bekerja lebih giat. Lambat laun pemikiran yang lebih mendalam pun berkembang. Perspektif sumber daya manusia (human resources perspective) tetap berfokus kepada partisipasi pekerja dan kepemimpinan yang bijaksana, namun penekanannya bergeser sehingga mencakup tugas harian pekerja. Perspektif ini menggabungkan aturan perencanaan tugas kerja dengan teori motivasi. Menurut perspektif ini, pekerjaan harus di rancang sedemikian agar tidak dipandang merendahkan, tetapi justru memungkinkan pekerja untuk sepenuhnya mengerahkan potensi mereka. Dua orang kontributor terkenal dari perspektif ini adalah Abraham Maslow dan Douglas McGregor.

Abraham Maslow (1908-1970), seorang praktisi psikologi, mengamati bahwa masalah pasien biasanya muncul dari ketidakmampuan mereka dalam memenuhi kebutuhan. Oleh karenanya, ia menggeneralisasi hasil pengamatannya dan menggagas hierarki kebutuhan. Hierarki Maslow dimulai dari kebutuhan fisiologi hingga keamanan, perasaan memiliki, kepercayaan diri, dan akhirnya aktualisasi.

Douglas McGregor (1906-1964) tidak puas dengan perspektif hubungan manusia ketika ia menjadi rektor Antioch College di Ohio. Ia mempertanyakan perspektif klasik maupun asumsi hubungan manusia mengenai perilaku manusia. Berdasarkan pengalamannya sebagai manajer dan konsultan, latar belakang pendidikannya di bidang psikologi dan pengaruh karya Maslow, McGregor merumuskan teori X dan teori Y. Berikut penjelasan teori tersebut :

Asumsi Teori X

  • Pada dasarnya manusia tidak suka bekerja dan akan menghindarinya jika dapat
  • Oleh karena pada dasarnya tidak suka bekerja, maka manusia harus dipaksa, dikendalikan, diarahkan atau diancam dengan hukuman agar mereka memberikan upaya yang dibutuhkan untuk mencapai tujuan organisasi
  • Kebanyakan manusia memilih untuk diarahkan, ingin menghindari dari tanggung jawab, tidak banyak berambisi, dan paling menginginkan keamanan.

Asumsi Teori Y

  • Kerja fisik dan mental merupakan sesuatu yang alamiah, sama halnya dengan bermain dan beristirahat. Pada dasarnya manusia tidak membenci bekerja
  • Kontrol eksternal dan ancaman hukuman bukan satu-satunya cara agar manusia bekerja untuk mencapai tujuan organisasi. Manusia akan mengarahkan dan mengendalikan diri mereka sendiri jika mereka berkomitmen untuk mencapai tujuan.
  • Dalam kondisi yang tepat, kebanyakan manusia tidak hanya belajar untuk menerima tanggung jawab, tetapi juga untuk mendapatkannya
  • Kemampuan untuk memanfaatkan imajinasi, orisinalitas, dan kreativitas untuk memecahkan masalah-masalah dalam organisasi yang dimiliki secara merata oleh semua orang.
  • Dalam kehidupan industrial modern, potensi intelektual dari kebanyakan manusia baru dimanfaatkan sebagian kecil saja.

Ia yakin bahwa perspektif klasik didasarkan kepada asumsi-asumsi Teori X mengenai pekerja. Ia juga yakin bahwa Teori Y yang sedikit dimodifikasi cocok dengan perspektif hubungan manusia awal. Dengan kata lain, perspektif hubungan manusia tidak berkembang lebih jauh. McGregor menggagas Teori Y sebagai perspektif yang lebih realistis terhadap pekerja dalam memperbaiki pemikiran manajemen.

Poin penting Teori X adalah bahwa organisasi dapat memanfaatkan imajinasi dan intelektualitas seluruh karyawannya. Jika diberi kesempatan, para karyawan akan mengontrol diri mereka sendiri dan berkontribusi bagi tujuan organisasi. Beberapa organisasi masa kini masih menerapkan manajemen Teori X, namun banyak pula yang menerapkan Teori Y.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here