Beranda Bisnis Perbedaan Dalam Mengelola Usaha Kecil dan Organisasi Nonprofit

Perbedaan Dalam Mengelola Usaha Kecil dan Organisasi Nonprofit

231
0
BERBAGI

MENGELOLA USAHA KECIL DAN ORGANISASI NONPROFIT

Organisasi Nonprofit – Usaha kecil makin penting, ratusan usaha kecil didirikan setiap bulannya, tetapi lingkungan usaha kecil saat ini sangat rumit. Perusahaan-perusahaan kecil terkadang sulit mengembangkan stamina manajerial yang diperlukan untuk bertahan di lingkungan yang bergolak. Sebuah survei tentang tren dan perkembangan usaha kecil di masa depan menemukan bahwa hampir setengah dari responden memandang keterampilan manajemen yang tidak memadai sebagai ancaman bagi perusahaan mereka, dibandingkan dengan kurang dari 25% responden dari organisasi besar. Apendiks A memberikan informasi terperinci mengenai manajemen usaha kecil dan pengusaha. Satu penemuan menarik adalah bahwa para manajer usaha kecil cenderung mengutamakan peran yang berbeda dengan peran manajer perusahaan besar. Para manajer perusahaan kecil sering menganggap peran terpenting mereka sebagai juru bicara karena mereka harus mempromosikan perusahaan kecil yang tengah berkembang kepada dunia luas. Peran pengusaha juga penting bagi usaha kecil karena para manajer harus berinovasi dan membantu organisasi mereka mengembangkan ide-ide baru agar tetap bersaing. Nilai peran pemimpin dan pemroses informasi para manajer usaha kecil cenderung rendah dibandingkan dengan para manajer perusahaan besar.

Organisasi nonprofit juga memperlihatkan penerapan bakat manajemen. Organisasi-organisasi seperti The Salvation Army, Nature Conservacy, Greater Chicago Food Depository, Girl Scout dan Cleveland Orchestra semuanya memerlukan manajemen yang baik. Fungsi perencanaan, pengelolaan, kepemimpinan dan pengendalian berlaku di organisasi nonprofit, sama halnya dengan di organisasi bisnis. Selain itu, para manajer organisasi nonprofit menggunakan berbagai keterampilan dan mengerjakan berbagai aktivitas yang serupa. Perbedaan utamanya adalah bahwa para manajer bisnis mengarahkan aktivitas mereka untuk memperoleh uang bagi perusahaan, sementara para manajer organisasi nonprofit mengarahkan upaya mereka untuk menghasilkan dampak sosial. Ciri dan kebutuhan unik dari organisasi nonprofit yang tercipta oleh perbedaan ini menjadi tantangan unik bagi para manajer.

Baca juga : Teori Perdagangan Internasional dan Investasi Internasional

Sumber daya keuangan organisasi nonprofit biasanya berasal dari anggaran pemerintah, hibah, dan sumbangan bukan dari penjualan barang atau jasa kepada pelanggan. Di organisasi bisnis, para manajer berfokus untuk meningkatkan penjualan barang dan jasa guna meningkatkan pendapatan penjualan. Sebaliknya, di organisasi nonprofit layanan biasanya diberikan kepada klien nonpembeli, dan persoalan utama bagi banyak organisasi adalah menjaga aliran dana agar dapat terus beroperasi. Para manajer organisasi nonprofit, yang berkomitmen untuk melayani para klien dengan sumber daya terbatas, harus berfokus pada mempertahankan biaya organisasi serendah mungkin. Para donatur umumnya ingin agar uang mereka langsung diberikan kepada orang yang memerlukan, bukan digunakan untuk biaya tetap. Jika para manajer nonprofit tidak dapat menunjukkan penggunaan sumber daya secara efisien mereka mungkin akan sulit untuk mempertahankan sumbangan atau anggaran pemerintah. Meskipun Undang-Undang Sarbanes-Oxley (undang-undang reformasi tata kelola perusahaan tahun 2002) tidak berlaku untuk organisasi nonprofit, banyak yang mengadopsi panduan untuk memberikan transparansi dan akuntabilitas sehingga dapat meningkatkan kredibilitas di hadapan konstituen dan dapat lebih bersaing dalam mencari dana.

Selain itu, karena organisasi nonprofit tidak mempunyai garis bawah konvensional, para manajer sering menggeluti pertanyaan mengenai apa yang dimaksud dengan hasil dan efektivitas. Menghitung dolar dan sen memang mudah, tetapi ukuran sukses di organisasi nonprofit jauh lebih ambigu. Para manajer harus mengukur ukuran-ukuran tidak kasat mata seperti “meningkatkan kesehatan masyarakat”, “memperbaiki kehidupan kelompok yang hak pilihnya dicabut” atau “meningkatkan apresiasi seni”. Aspek tidak kasat mata ini juga mempersulit upaya pengukuran kinerja karyawan dan manajer. Kerumitan lain adalah para manajer sering bergantung kepada relawan dan donatur yang tidak dapat diawasi dan dikendalikan seperti yang dilakukan oleh manajer bisnis terhadap para karyawannya.

Peran-peran yang disebutkan oleh Mintzberg juga berlaku bagi organisasi nonprofit, tetapi ada perbedaan. Kita mungkin melihat manajer organisasi nonprofit lebih mengutamakan peran juru bicara (untuk “menjual” organisasi kepada donatur dan masyarakat), pemimpin (untuk membangun komunitas karyawan dan relawan yang termotivasi oleh suatu misi) dan pengalokasi sumber daya (untuk mendistribusikan sumber daya pemerintah atau dana hibah yang sering diberikan dari atas ke bawah).

Manajer semua organisasi, baik di perusahaan besar, usaha kecil, dan organisasi nonprofit, menggabungkan dan menyesuaikan fungsi dan peran manajemen secara saksama untuk menghadapi tantangan di lingkungan mereka dan menjaga organisasi tetap sehat.

Baca Juga: Tujuan Riset Pasar

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here