Beranda Pendidikan Hidup Untuk Bahagia, Tidak Sekedar Mencari Harta

Hidup Untuk Bahagia, Tidak Sekedar Mencari Harta

177
0
BERBAGI

Hidup Untuk Bahagia – Bahagia adalah impian setiap manusia yang ada di muka bumi. Seseorang hidup di dunia ini pastinya berharap dan berusaha untuk mendapat kebahagian. Ukuran kebahagiaan seseorang itu berbeda-beda. Ada yanng bahagia jika dirinya sudah kaya, ada yang bahagia ketika dirinya sudah menjadi seorang CEO suatu perusahaan, dan ada pula yang bahagia ketika dirinya menjadi orang yang sholeh atau alim, serta masih banyak lagi. Akan tetapi kebahagiaan yang sesungguhnya adalah apabila kita menjadi diri sendiri, melakukan apa yang kita sukai tanpa ada yang melarang, dan menjadikan sesuatu yang kita senangi itu sebagai pekerjaan atau karir yang akan terus kita jalani sampai akhir hayat.

Perbedaan Negara Maju dengan Negara Berkembang

Melihat ke negara maju seperti Amerika dan negara-negara eropa lainnya, pola pikir masyarakatnya berbeda dengan negara berkembang dan negara terbelakang. Salah satu perbedaanya terletak pada mindset. Masyarakat di negara maju mayoritas memilih untuk bahagia dulu, dibandingkan harta. Mengapa demikian, karena mereka cenderung melakukan apa yang mereka sukai, misalnya mereka suka bertani, mereka akan menjadi seorang petani sampai ahli dalam bertani, sehingga dalam kehidupan sehari-hari mereka bahagia karena melakukan apa yang ia sukai, urusan harta atau uang pasti mengikuti jika ia sudah menjadi ahli dalam bertani. Berbeda halnya dengan mindset orang-orang di negara berkembang seperti Indonesia, masyarakat Indonesia cenderung melakukan sesuatu bukan yang disukainya, melainkan sesuatu yang memiliki potensi menghasilkan uang yang banyak.

Sebagai contoh, siswa yang baru lulus menempuh pendidikan SMA, kemudian bingung mau memilih jurusan apa ketika kuliah. Mereka cenderung memilih jurusan yang tidak sesuai dengan “passion” nya, mereka memilih jurusan yang populer dan banyak dicari orang seperti Fakultas Kedokteran, Teknik dan lain sebagainya. Mereka memaksakan masuk jurusan kuliah yang tidak mereka sukai, agar nanti ketika lulus mudah mendapatkan pekerjaan. Berbeda halnya dengan masyarakat di negara maju seperti Amerika, di sana setelah siswa lulus SMA, mereka memilih jurusan kuliah sesuai dengan apa yang mereka sukai, urusan setelah lulus mereka kerja apa, itu menjadi pertimbangan kedua. Yang terpenting adalah mereka bahagia dalam proses belajar.

Contoh di atas terlihat bahwa ada perbedaan pola pikir antara masyarakat di negara maju dan negara berkambang. Di negara maju memilih untuk bahagia terlebih dahulu dengan menjalani hidup sesuai dengan apa yang mereka sukai, urusan pekerjaan nanti bagaimana, itu pertimbangan kedua. Sedangkan di negara berkembang seperti di Indonesia, masyarakatnya lebih memilih untuk urusan pekerjaan yang mana mendatangkan uang lebih banyak, meskipun itu adalah pekerajaan yang tidak sesuai dengan passion nya.

Studi Kasus

Hidup Untuk Bahagia – Cerita dari seorang Budayawan dari Indonesia yang sudah berkeliling dunia, Ada studi kasus di Negara Jepang, yang mana seseorang yang sudah tua dan memiliki kesukaan yaitu melipat kertas origami, hobinya itu dia lakukan sejak kecil sampai tua tanpa kenal bosan dan lelah. Selanjutnya Badan Penerbangan dan Antariksa Amerika (NASA) membutuhkan orang yang akan ditugaskan pada posisi tertentu, dan yang bisa melakukannya hanya orang yang sudah ahli dalam melipat origami, seperti seseorang yang berasal dari Negara Jepang tadi. Akhirnya dia bekerja di NASA dan diberi gaji yang tinggi.

Kunci dari kebahagiaan seseorang yaitu dimana ia bisa melakukan apa yang mereka sukai, mereka bekerja dan berkarir sesuai dengan passion nya. Sehingga dalam waktu beberapa tahun ke depan mereka menjadi ahli dalam bidangnya masing-masing dan urusan pekerjaan serta rezekipun akan mengikutinya.

Komentar dengan facebook